6 Mei 2017

Lebih Dekat dengan Ranu Kumbolo

Tepat di penghujung bulan April kemarin gue berhasil dapetin pengalaman baru. Sebelumnya gue berpendapat kalo naik gunung itu biasa aja dan ujung-ujungnya pasti bikin capek. But.. kalimat tadi udah gue buktikan dan ternyata salah.. hehe.
Yap! Naik gunung ternyata lebih seru dari yang gue bayangkan. Ada sensasi yang beda kalo dibandingin dengan pantai, air terjun atau tempat lainnya.
Ini adalah pengalaman pertama gue pergi ke gunung. Gue berangkat ke Semeru berempat. Semuanya udah sering ke gunung kecuali gue. Mungkin ini alasan mereka kenapa ngajakin gue kesini. Pertama gue pesimis, tapi karena penasaran juga yaudah akhirnya gue ikut bareng mereka. Mumpung masih muda, iya ga?

Beberapa hari sebelumnya kami menyiapkan barang-barang yang bakal dibutuhin. FYI, kalo mau mendaki ke Gunung Semeru jangan lupa membawa surat keterangan sehat dari dokter dan fotokopi KTP. Karena kemarin surat-surat tersebut memang menjadi syarat untuk naik ke Semeru. Sehari sebelum berangkat gue udah minta surat sehat dari dokter dan membawa fotokopi KTP (satu lembar cukup), jadi nggak sampai pusing setiba di sana karena nggak punya kelengkapan surat-surat tersebut.

Barang bawaan yang gue masukin ke dalam tas nggak terlalu banyak. Cuman beberapa pakaian seperti celana ganti, kaos, jaket (gue bawa dua), sleeping bag, matras, gelas dan makanan instan. Temen-temen gue bawaannya lebih banyak dibanding gue karena memang space tas carrier mereka muat lebih banyak. Kompor portable sama tenda diangkut semuanya. Jempol!

Gue berangkat dari Malang pake motor sekitar pukul 11.00 siang dan tiba pukul 13.00. Sesampai di lokasi ternyata rame banget. Mungkin karena gue kesana weekend atau memang Semeru tiap hari banyak dikunjungi pendaki dari berbagai daerah, gue kurang tahu. Kami membeli tiket dan diberi formulir untuk mendata barang-barang yang dibawa. Oiya, sebelum memulai pendakian wajib banget mengikuti briefing bersama pendaki lainnya. Jadi ada ruangan semacam pusat informasi di sana.

Setelah semuanya beres, baru pendakian di mulai. Waktu itu gue mulai naik pukul 14.12. Nggak, berasa panas kok, suhu di sana sejuk. Hingga.. setelah melalui beberapa tanjakan awal gue udah mulai ngos-ngosan hahaha. Kami duduk sebentar di kursi kayu bekas ditebang. Setelah napas udah nggak ngos-ngosan perjalanan kami lanjutkan hingga kami istirahat lagi di pos pertama. Dari sana kayaknya gue udah mulai terbiasa. Ngos-ngosan sih masih, tapi nggak sesering seperti langkah-langkah pertama tadi haha. Kami lanjut sampai pos dua, tiga dan istirahat di sana. Nah.. ini yang gue inget banget. Kami berada di pos tiga sekitar pukul setengah enam sore, matahari udah perlahan tenggelam. Setelah cabut dari pos tiga di depannya ada tanjakan lagi yang nyebelin haha. Ngga tau dah, padahal baru istirahat di pos tiga tapi setelah melewati tanjakan tadi napas langsung ngos-ngosan. Langit juga udah mulai gelap dan gue ngeluarin senter dari tas sebagai penerang jalan. Beberapa kali sempet tergelincir karena pijakan yang licin dan gelap. Jadi kudu pelan-pelan. Kami jalan terus... terus.. sampai di pos empat. Nah di pos empat ini udah terlihat lampu-lampu dari tenda orang yang nge-camp di Ranu Kumbolo. Yosh! Ini bener-bener bikin semangat berasa diboost. Temen-temen pada juga teriak,

“Ayo rek, PATAS!”

Beranjak dari pos empat tracknya udah mulai banyak turunan yang licin. Harus hati-hati agar nggak jatuh. Kami jalan terus dari pos empat dan Ranu Kumbolo udah di depan mata.

Sekitar pukul 18.30 gue udah tiba di Ranu Kumbolo dan langsung bersiap mendirikan tenda. Kurang lebih butuh waktu tiga puluh menit hingga akhirnya tenda siap dipake selonjoran. Lumayan capek. Kalo dihitung dari awal waktu pendakian kira-kira butuh lima jam untuk sampai di Ranu Kumbolo. Kami langsung bikin kopi dan mie instan untuk menghangatkan badan dan mengisi perut yang udah kosong.

Setelah makan gue tidur duluan dengan jaket rangkap dan sleeping bag yang gue bawa. Temen-temen masih nongkrong di tenda sambil ngobrol. Gue kebangun dini hari dan itu udaranya dingiin banget. Gue tidur udah pake jaket rangkap (kain dan parasit), sarung tangan, kaos kaki, penutup kepala dan sleeping bag pun masih kedinginan. Gue nggak bisa tidur lagi, sampai pagi.



Setelah semuanya bangun, kami mengambil air danau buat bikin mie instan (lagi) dan bubur instan yang gue bawa. Kabutnya tebel dan air danau juga dingin banget. Setelah sarapan dan nunggu kabut yang menutupi danau belum hilang, akhirnya kami naik ke tanjakan cinta yang ‘katanya’ kalo jalan sambil bayangin orang yang kita sayang tanpa nengok ke belakang bakalan hidup bahagia bersamanya. Kami berempat jomblo, jadi santai-santai aja mau nengok ke belakang atau kagak. Bener ga? Haha.


Dari atas tanjakan cinta terlihat hamparan luas yang ditumbuhi bunga warna ungu di bawahnya. Seingat gue sewaktu briefing bunga ini adalah tanaman parasit dan jumlahnya banyaaak banget. Mumpung udah di sana kami turun ke hamparan bunga ungu tadi (kalo ga salah nama tempatnya Oro-oro Ombo) untuk menikmati dan sekalian foto-foto.



Setelah capek, kami balik ke Ranu Kumbolo sambil berharap kabut udah hilang dan.. YAP! Ranu Kumbolo menunjukkan kecantikannya. Di situ orang-orang langsung foto-foto, bikin story Instagram (padahal kaga ada sinyal) dan menikmati momen dengan cara yang beragam. Ini adalah pertama kalinya gue menginjakkan kaki di Ranu Kumbolo. Lebih dekat dengan Ranu Kumbolo .. dari yang sebelumnya gue hanya tahu dari film atau sosial media saja.


Gue menikmati saat berada di sana. Bersyukur banget cuaca sangat cerah. Langit biru cerah, hijaunya hamparan pohon yang luas dan dipadu dengan warna khas danau Ranu Kumbolo. So awesome place!
Tapi tujuan kita semua kesini adalah untuk menikmati keindahannya, jadi jangan lupa juga untuk ikut menjaganya.

***

Setelah puas menikmati pemandangan yang indah, kami harus packing untuk pulang. Waktu untuk turun pasti lebih cepat dibanding saat naik. Kami membutuhkan sekitar tiga jam lebih hingga sampai di desa Ranu Pane dan langsung melanjutkan perjalanan kembali ke Malang. Terima kasih #RanuKumbolo.

0 komentar:

Posting Komentar